Oleh: Zaenuddin Endy (Koordinator LTN Imdadiyah JATMAN Sulawesi Selatan)
SULSEL – Dalam peta spiritualitas Islam Sulawesi Selatan, tarekat memainkan peran penting dalam membentuk corak keberagamaan masyarakat. Salah satu jalur tarekat yang berkembang kuat di wilayah Maros adalah Tarekat Haqiqatul Muhammadiah Assanusiyah Tekolabbua, dengan KH. Syamsuddin dikenal sebagai salah satu tokoh sentral sekaligus mursyid yang berperan besar dalam mempertahankan ajaran tasawuf di daerah tersebut. Sosoknya menjadi jembatan antara tradisi tasawuf klasik dengan dinamika keagamaan masyarakat Bugis-Makassar yang khas.
KH. Syamsuddin lahir dan tumbuh di lingkungan religius yang akrab dengan tradisi pesantren dan tarekat. Ia belajar kepada sejumlah ulama tarekat di Sulawesi Selatan dan juga menerima langsung tarekat Haqiqatul Muhammadiyah di Jabal Qubais tahun ijazah 1333 H/1912 Melalui jalur tersebut, beliau mendapatkan bai‘at, ijazah, dan amanah untuk mengembangkan cabang tarekat di daerah Maros, khususnya di Tekolabbua, sebuah wilayah di Kecamatan Maros Baru yang kemudian dikenal luas sebagai pusat spiritual dan pengajian tasawuf.
Keilmuan KH. Syamsuddin tidak hanya berakar pada aspek syariat, tetapi juga mendalam dalam dimensi hakikat. Ia menamakan tarekat yang diajarkannya sebagai Haqiqatul Muhammadiah Assanusiyah, menegaskan orientasinya pada dimensi ruhani dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Bagi Haqiqat al-Muhammadiyah merupakan inti dari perjalanan spiritual manusia yakni kesadaran untuk meneladani sifat-sifat Nabi dalam seluruh aspek kehidupan: kejujuran, kasih sayang, kesederhanaan, dan keteguhan batin dalam menghadapi cobaan dunia.
Di Tekolabbua, KH. Syamsuddin mendirikan majlis zikir dan pengajian tasawuf yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar. Majlis ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai lembaga pembinaan akhlak dan pendidikan ruhani. Dalam majlisnya, zikir lailaha illallah dan shalawat muhammadiyah menjadi amalan utama yang dilakukan secara berjamaah. Selain itu, KH. Syamsuddin mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, ukhuwah, serta pentingnya memperkuat ikatan spiritual dengan guru dan jamaah.
Sebagai mursyid, KH. Syamsuddin dikenal tegas dalam menjaga kemurnian ajaran tarekat. Ia menolak praktik-praktik yang berlebihan dan menekankan bahwa hakikat tasawuf bukanlah pada kesaktian, melainkan pada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Pengajarannya bersandar pada prinsip bahwa jalan menuju Tuhan harus ditempuh dengan ilmu, amal, dan adab. Ia sering menekankan tiga tingkatan perjalanan ruhani: syariat sebagai landasan, tarekat sebagai jalan, dan hakikat sebagai tujuan.
Dari majlis yang ia pimpin, KH. Syamsuddin melahirkan sejumlah khalifah dan murid yang kemudian meneruskan perjuangan spiritualnya di berbagai wilayah Sulawesi Selatan. Beberapa nama yang disebut dalam tradisi lisan lokal antara lain KH. Asnawi, KH. Abdul Rasyid, KH. Puang Passallam, dan KH. Mudo Kaemba. Di antara generasi penerus yang dikenal kemudian adalah KH. Mun‘im Abdul Rasyid, yang melanjutkan kepemimpinan tarekat di Tekolabbua. Melalui mereka, jaringan tarekat ini meluas hingga ke daerah Paropo, Kassi, dan sebagian wilayah Pangkep.
Kharisma KH. Syamsuddin tidak hanya dikenal di kalangan jamaah tarekat, tetapi juga di tengah masyarakat luas. Ia sering dimintai nasihat oleh tokoh agama dan pemerintah daerah, terutama dalam urusan sosial keagamaan. Ketokohannya menampilkan wajah Islam yang sejuk, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai lokal Bugis-Makassar. Pendekatannya terhadap masyarakat lebih menekankan dialog kultural dan transformasi moral daripada sekadar dogma formal.
Setelah wafatnya, Tekolabbua tetap menjadi pusat spiritual yang hidup. Masyarakat setempat secara rutin mengadakan haul untuk mengenang jasa-jasa KH. Syamsuddin, disertai zikir dan pembacaan manaqib. Tradisi ini menunjukkan kuatnya ikatan batin antara mursyid dan murid, serta kontinuitas warisan spiritual yang dijaga lintas generasi. Makam KH. Syamsuddin kini menjadi salah satu tempat ziarah ruhani yang dihormati, khususnya bagi jamaah tarekat yang menelusuri sanadnya hingga ke beliau.
Dalam konteks sejarah tasawuf di Sulawesi Selatan, KH. Syamsuddin menempati posisi penting sebagai figur penyebar Tarekat Haqiqatul Muhammadiah Assanusiyah di wilayah Maros. Melalui pendekatan spiritual dan moral yang khas, ia berperan membentuk corak keberagamaan yang damai, mendalam, dan berakar kuat pada budaya lokal. Tradisi Tekolabbua yang diwariskannya membuktikan bahwa tarekat bukan sekadar institusi ritual, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan kesadaran spiritual umat.
Hingga kini, ajaran dan jejak perjuangan KH. Syamsuddin masih hidup di tengah masyarakat Maros. Para pengikutnya terus melestarikan nilai-nilai zikir, muhasabah, dan kesederhanaan yang beliau tanamkan. Dalam lanskap modernitas yang serba cepat, warisan beliau menjadi penyejuk dan pengingat bahwa inti dari keberagamaan adalah ketulusan hati dan kedekatan dengan Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam sabda Nabi, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian.”













