Oleh: Zaenuddin Endy, Koordinator LTN Thariqiyah Imdadiyah JATMAN Sulawesi Selatan
SULSEL – Tarekat dalam tradisi tasawuf adalah jalan spiritual yang dipenuhi simbol-simbol ritual. Zikir berjamaah, wirid harian, pakaian khusus, bahkan tata cara duduk dalam majelis dzikir sering dianggap sebagai identitas sebuah tarekat. Namun, di balik simbol-simbol itu, terdapat substansi yang jauh lebih dalam: membersihkan hati agar seseorang mampu menyaksikan kehadiran Tuhan. Perbedaan antara simbol dan substansi inilah yang kerap menjadi titik krusial dalam dinamika tarekat menuju hakikat.
Bagi sebagian pengikut tarekat, simbol menjadi sarana penting untuk mengikat disiplin. Ia memberi batas, aturan, dan keteraturan dalam perjalanan spiritual. Dengan mengikuti amalan yang diwariskan mursyid, seorang salik belajar menundukkan ego dan mengikat dirinya pada sebuah tatanan. Namun, simbol tidak boleh dipandang sebagai tujuan. Ketika simbol dijadikan tujuan akhir, substansi akan terabaikan, dan tarekat hanya tinggal rutinitas tanpa makna.
Hakikat selalu menjadi inti dari perjalanan sufi. Ia bukan sekadar pengetahuan intelektual, melainkan pengalaman ruhani yang menyingkap tabir Ilahi. Hakikat tidak bisa dipahami hanya melalui kata-kata, melainkan melalui penyucian jiwa yang ditempuh lewat disiplin tarekat. Dengan kata lain, substansi dari tarekat adalah hakikat itu sendiri. Tarekat tanpa hakikat ibarat tubuh tanpa jiwa: nampak hidup dari luar, tetapi sesungguhnya kosong.
Fenomena yang kerap muncul dalam masyarakat adalah kecenderungan berhenti pada aspek simbolis. Banyak orang menganggap dirinya sufi karena mengikuti zikir tertentu atau memakai pakaian khas tarekat. Padahal, simbol hanyalah pintu. Jika seseorang berhenti di pintu, ia tidak akan pernah masuk ke ruang utama. Inilah kritik yang sering diajukan oleh para sufi sejati terhadap formalisme yang melampaui substansi.
Perjalanan spiritual sejati menuntut keseimbangan. Simbol memang perlu, sebab ia menjadi kendaraan. Namun, kendaraan harus mengantar seseorang ke tujuan, bukan membuatnya puas hanya dengan berada di dalamnya. Substansi atau hakikat adalah tujuan dari kendaraan itu. Maka, orang yang matang dalam spiritualitas tidak akan terjebak dalam simbol, tetapi juga tidak akan menolak keberadaannya.
Hakikat hanya dapat dicapai dengan membersihkan hati. Simbol-simbol tarekat dimaksudkan untuk melatih kesabaran, keikhlasan, dan disiplin. Misalnya, zikir berjamaah bukan hanya soal melafalkan nama Allah, tetapi juga soal menyatukan hati, merasakan kebersamaan dalam ingatan kepada Tuhan, dan melatih kehadiran batin. Jika substansi ini tidak dipahami, zikir hanya akan menjadi lantunan kosong.
Sejarah sufi besar menunjukkan bahwa mereka tidak pernah berhenti pada simbol. Jalaluddin Rumi menggunakan syair sebagai simbol untuk menyampaikan cinta Ilahi, tetapi substansi puisinya adalah pengalaman cinta hakiki kepada Allah. Ibn ‘Arabi menulis simbol-simbol metafisik yang rumit, tetapi di baliknya terkandung substansi makrifat yang mendalam. Dengan demikian, simbol hanya berfungsi sebagai jembatan menuju substansi.
Namun, perjalanan menuju substansi sering kali penuh dengan ujian. Banyak salik yang terjebak pada kebanggaan spiritual, merasa lebih suci hanya karena mengikuti tarekat tertentu. Ego spiritual ini justru menjadi penghalang terbesar untuk mencapai hakikat. Padahal, hakikat hanya bisa dicapai oleh mereka yang merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Allah.
Dalam dunia modern, simbol-simbol tarekat kadang dipandang kuno atau tidak relevan. Sebagian orang menganggapnya hanya tradisi budaya tanpa makna. Pandangan ini muncul karena kurangnya pemahaman akan substansi di balik simbol. Jika substansinya dipahami, maka simbol justru menjadi media penting untuk mentransmisikan pengalaman ruhani dari generasi ke generasi.
Kritik modern terhadap tarekat juga sering menyoroti praktik simbolik yang dianggap berlebihan, seperti mengagungkan mursyid secara berlebihan atau menekankan wirid tertentu tanpa penjelasan filosofis. Kritik ini valid sejauh menyoroti penyimpangan substansi. Tetapi jika simbol benar-benar dipahami sebagai alat, maka ia tetap relevan sebagai disiplin spiritual di tengah gempuran materialisme modern.
Hakikat tidak pernah bisa dijelaskan tuntas dengan bahasa. Ia hanya bisa dirasakan. Namun, manusia memerlukan simbol untuk memberi bentuk pada sesuatu yang tak berbentuk. Simbol menjadi cara manusia mendekatkan yang gaib dengan dunia nyata. Oleh karena itu, simbol-simbol dalam tarekat adalah sarana pedagogis, bukan tujuan final.
Seorang mursyid sejati selalu menekankan pentingnya substansi di balik simbol. Ia akan membimbing muridnya untuk tidak berhenti pada bentuk, tetapi melampauinya. Mursyid yang baik bukanlah mereka yang mengikat murid pada dirinya, melainkan yang mengantar murid untuk terhubung langsung dengan Allah. Hakikat dari mursyid adalah jalan, bukan tujuan.
Tarekat sejati selalu menuntun pada hakikat. Jika seseorang benar-benar menjalani tarekat, ia akan menemukan bahwa semua simbol, ritual, dan amalan hanya bertujuan untuk membersihkan cermin hati. Setelah cermin itu bersih, ia akan mampu memantulkan cahaya Ilahi. Itulah hakikat yang sesungguhnya.
Hakikat juga mengajarkan kerendahan hati. Orang yang benar-benar mencapai substansi tidak akan membanggakan dirinya sebagai sufi, apalagi menganggap orang lain rendah. Ia akan menyadari bahwa semua manusia sedang berjalan menuju Tuhan dengan caranya masing-masing. Hakikat melahirkan kasih sayang, bukan kesombongan.
Dalam kerangka ini, simbol dan substansi harus ditempatkan secara proporsional. Simbol tanpa substansi hanya akan melahirkan formalisme kering. Sebaliknya, substansi tanpa simbol akan sulit diajarkan dan diwariskan. Maka, keseimbangan keduanya adalah kunci kelestarian tarekat.
Dinamika antara simbol dan substansi adalah cermin perjalanan spiritual umat manusia. Ia menunjukkan bahwa manusia membutuhkan bentuk untuk sampai pada makna, membutuhkan jalan untuk sampai pada tujuan. Simbol bukanlah penghalang bagi substansi, melainkan jembatan yang harus dilalui dengan penuh kesadaran.
Hakikat akhirnya adalah tujuan setiap tarekat. Simbol akan pudar, ritual akan selesai, bahkan tubuh akan binasa, tetapi substansi akan tetap hidup dalam jiwa yang telah menyaksikan Allah. Maka, seorang salik harus senantiasa mengingat bahwa jalan ini bukan tentang mengoleksi simbol, tetapi tentang menemukan substansi: hakikat perjumpaan dengan Tuhan.
Perjalanan menuju hakikat adalah perjalanan seumur hidup. Ia menuntut kesabaran, keikhlasan, dan ketekunan. Simbol adalah teman seperjalanan, substansi adalah cahaya tujuan. Dan ketika seorang salik benar-benar sampai, ia akan menyadari bahwa yang ia cari selama ini bukanlah sekadar simbol, melainkan wajah Tuhan yang hadir dalam setiap denyut kehidupannya.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005.
Al-Qusyairi, Abu al-Qasim. Al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002.
Al-Taftazani, Abu al-Wafa. Sufi dari Zaman ke Zaman. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003.
Asmaran. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers, 2013.
Chittick, William C. The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination. Albany: SUNY Press, 1989.
Chittick, William C. Science of the Cosmos, Science of the Soul: The Pertinence of Islamic Cosmology in the Modern World. Oxford: Oneworld, 2007.
Nasr, Seyyed Hossein. Sufi Essays. Albany: State University of New York Press, 1991.
Nicholson, Reynold A. The Mystics of Islam. London: Routledge, 2002.
Schimmel, Annemarie. Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: The University of North Carolina Press, 1975.
Siradj, Said Aqil. Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, bukan Aspirasi. Jakarta: Mizan, 2006.
Trimingham, J. Spencer. The Sufi Orders in Islam. Oxford: Clarendon Press, 1998.
Zuhri, Saefuddin. Hakikat Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2014.













