Oleh: Zaenuddin Endy (Koordinator LTN Thariqiyah Imdadiyah JATMAN Sulawesi Selatan)
SULSEL – Tasawuf dalam Islam bukan sekadar disiplin ilmu, melainkan jalan hidup yang menuntun manusia menuju Tuhan. Dalam kerangka ini, tarekat dan hakikat adalah dua sisi yang tidak terpisahkan. Tarekat merupakan jalan atau metode yang ditempuh seorang murid untuk mendekatkan diri kepada Allah, sementara hakikat adalah tujuan terdalam: kesadaran penuh akan kehadiran-Nya. Bertarekat untuk berhakikat berarti menempuh jalan panjang yang menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian spiritual.
Tarekat dalam sejarah Islam muncul dari kebutuhan manusia untuk mempraktikkan ajaran agama secara lebih mendalam. Shalat, puasa, dan zakat adalah syariat, tetapi bagaimana menghidupkan ruh di balik ibadah itu adalah wilayah tarekat. Melalui bimbingan seorang mursyid, seorang murid dibawa masuk ke disiplin spiritual yang lebih ketat. Dari sinilah perjalanan menuju hakikat bermula.
Hakikat adalah inti dari seluruh amalan tarekat. Ia adalah kesadaran batin yang tidak lagi terikat pada simbol-simbol lahiriah, tetapi menyelami makna terdalam dari setiap amal. Orang yang mencapai hakikat tidak berhenti pada jumlah zikir yang dilafalkan, tetapi merasakan kehadiran Allah dalam setiap lafaz. Hakikat adalah ruh dari ibadah, sedangkan tarekat adalah jalannya.
Para sufi sering mengingatkan bahwa tarekat ibarat jembatan menuju hakikat. Jembatan tidak boleh dijadikan tujuan akhir, melainkan harus dilalui untuk sampai ke seberang. Jika seseorang berhenti di tengah jembatan, ia tidak akan pernah mencapai hakikat. Karena itu, tarekat selalu menekankan agar murid tidak terjebak dalam formalitas, tetapi terus melangkah hingga mencapai substansi.
Bertarekat juga berarti melatih diri untuk menundukkan hawa nafsu. Amalan-amalan tarekat dirancang untuk mengikis sifat sombong, tamak, dan cinta dunia. Hakikat hanya dapat dicapai oleh mereka yang hatinya bersih dari penyakit spiritual. Dengan demikian, setiap zikir, wirid, dan mujahadah dalam tarekat adalah sarana pembersihan hati yang mengantarkan seorang hamba menuju hakikat.
Seorang mursyid memiliki peran penting dalam perjalanan ini. Ia adalah pembimbing yang menuntun murid agar tidak tersesat. Jalan menuju hakikat penuh dengan jebakan ego, ilusi spiritual, dan godaan nafsu. Tanpa bimbingan mursyid, seorang murid bisa merasa sudah sampai pada hakikat, padahal ia baru terjebak dalam bayangan semu. Mursyidlah yang menjaga murid agar tetap berada pada jalan yang benar.
Hakikat sering digambarkan sebagai cahaya yang menyinari hati. Namun cahaya itu tidak serta merta turun tanpa persiapan. Ia datang sebagai anugerah setelah seorang hamba membersihkan diri melalui tarekat. Karenanya, bertarekat bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana untuk menyiapkan hati agar layak menerima cahaya hakikat.
Dalam perjalanan menuju hakikat, seorang salik akan mengalami berbagai tahap: dari syariat, ke tarekat, lalu ke hakikat, dan akhirnya menuju makrifat. Syariat adalah hukum lahiriah, tarekat adalah latihan batiniah, hakikat adalah kesadaran terdalam, sedangkan makrifat adalah pengenalan langsung kepada Allah. Semua tahap ini saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
Kesadaran ini penting ditegaskan, sebab ada orang yang tergesa-gesa ingin langsung mencapai hakikat tanpa melalui tarekat. Mereka menganggap cukup dengan pengetahuan intelektual tentang hakikat. Padahal, hakikat tidak bisa dicapai dengan akal semata. Ia adalah buah dari perjalanan ruhani yang panjang, disiplin, dan penuh ujian.
Tarekat melatih murid untuk sabar dalam menempuh proses. Hakikat tidak datang dalam semalam, tetapi melalui latihan yang konsisten. Mujahadah, riyadhah, dan khalwat adalah metode yang menguji kesungguhan seorang salik. Dari latihan inilah hatinya perlahan dibersihkan hingga akhirnya mampu menyerap cahaya hakikat.
Hakikat melahirkan akhlak yang mulia. Orang yang telah sampai pada hakikat tidak lagi terikat pada ego, melainkan hidup dalam kasih sayang dan kerendahan hati. Ia memandang semua makhluk sebagai ciptaan Allah yang layak dihormati. Dengan demikian, hakikat bukanlah pengalaman individual semata, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang menciptakan kedamaian di masyarakat.
Dalam dunia yang serba cepat dan materialistik, tarekat dan hakikat tetap relevan. Manusia modern mungkin memiliki teknologi tinggi, tetapi jiwanya sering kosong. Tarekat memberi jalan disiplin ruhani, dan hakikat memberi tujuan sejati. Inilah yang membuat tasawuf tetap menjadi oase spiritual di tengah kekeringan zaman.
Hakikat sejati juga menyadarkan manusia akan keterbatasannya. Orang yang mencapai hakikat menyadari bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa Allah. Kesadaran ini melahirkan tawakal, kesabaran, dan ketenangan batin. Ia tidak lagi dikuasai oleh ambisi duniawi, karena hatinya telah menyatu dengan kehendak Ilahi.
Bertarekat untuk berhakikat berarti memahami bahwa simbol-simbol lahiriah hanyalah jalan menuju makna terdalam. Zikir bukan sekadar lafaz, doa bukan sekadar bacaan, dan ibadah bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana untuk menyentuh inti kehidupan: perjumpaan dengan Allah.
Hakikat akhirnya tidak bisa dipisahkan dari cinta. Para sufi menggambarkan perjalanan menuju hakikat sebagai perjalanan cinta, di mana hamba jatuh cinta kepada Tuhannya. Tarekat adalah latihan cinta, sementara hakikat adalah pertemuan dengan Sang Kekasih. Itulah puncak perjalanan spiritual yang dirindukan setiap salik.
Jalan ini bukan jalan mudah. Ia penuh ujian, keheningan, bahkan kesepian. Namun di ujungnya, seorang salik menemukan kebahagiaan sejati yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Kebahagiaan itu adalah ketenangan hati bersama Allah, yang merupakan hakikat kehidupan manusia.
Dengan demikian, bertarekat untuk berhakikat bukanlah pilihan sampingan, melainkan panggilan eksistensial bagi setiap manusia yang rindu pada makna hidup. Ia adalah jalan menembus tirai lahiriah menuju kedalaman batin, tempat seorang hamba menemukan wajah Tuhan yang selalu dirindukannya.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005.
Al-Qusyairi, Abu al-Qasim. Al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002.
Al-Sarraj, Abu Nasr. Al-Luma’ fi al-Tasawwuf. Kairo: Dar al-Ma’rifah, 1993.
Asmaran. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers, 2013.
Chittick, William C. The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination. Albany: SUNY Press, 1989.
Nasr, Seyyed Hossein. Ideals and Realities of Islam. London: George Allen & Unwin, 1985.
Nicholson, Reynold A. The Mystics of Islam. London: Routledge, 2002.
Schimmel, Annemarie. Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: The University of North Carolina Press, 1975.
Siradj, Said Aqil. Tasawuf sebagai Kritik Sosial. Jakarta: Mizan, 2006.
Trimingham, J. Spencer. The Sufi Orders in Islam. Oxford: Clarendon Press, 1998.
Zuhri, Saefuddin. Hakikat Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2014.













