Home / Hikmah / Sejarah Singkat Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah As-Sanusiyah di Tekolabbua Maros

Sejarah Singkat Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah As-Sanusiyah di Tekolabbua Maros

Sejarah Singkat Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah As-Sanusiyah di Tekolabbua Maros

SULSEL– Dalam suasana penuh kekhusyukan, pada hari Sabtu, 4 Oktober 2025 di sebuah zawiyah yang terletak di Tekolabbua, Maros, tampak para pengurus JATMAN Sulawesi Selatan berkumpul untuk membicarakan program kerja. Suasana saat itu terasa teduh, dan cahaya matahari yang menembus sela-sela jendela zawiyah menambah nuansa spiritual pertemuan tersebut. KH. Mun’im Rasyid, selaku shahibul bait sekaligus mursyid Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah Assanusiyah, memaparkan dengan tenang sejarah singkat tarekat Haqiqatul Muhammadiyah As Sanusiyah di Tekolabbua Maros yang telah diwariskan secara turun-temurun dari para ulama sufi terdahulu.

Beliau memulai kisahnya dengan menyebut nama besar KH. Syamsuddin, seorang ulama kharismatik dari Tekolabbua yang menjadi penerima ijazah Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah Assanusiyah . Menurut penuturan KH. Mun’im, KH. Syamsuddin memperoleh ijazah tarekat tersebut langsung dari Jabal Qubais, Makkah al-Mukarramah, pada tahun 1333 H atau bertepatan dengan 1912 M. Sebuah sanad yang agung dan penuh keberkahan, yang menunjukkan kesinambungan ilmu dan ruhaniyah dari sumber-sumber utama Islam.

Namun, perjalanan tarekat ini tidak serta merta berlangsung mulus. Sepulangnya dari Makkah, KH. Syamsuddin menghadapi situasi sosial-politik yang belum stabil. Saat itu, masyarakat Maros masih berada dalam suasana mencekam akibat pergolakan dan dinamika sosial yang belum kondusif untuk pengajaran tarekat. Karena itu, beliau memilih untuk menahan diri dan menyimpan ajaran tarekat tersebut hingga tiba saat yang tepat.

Barulah pada tahun 1938, KH. Syamsuddin mulai membuka pengajaran tarekat ini secara terbatas. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, hanya kepada murid-murid yang dianggap siap secara ruhani dan berakhlak. Pengajaran itu berlangsung hingga tahun 1954. Dalam kurun waktu itulah benih-benih spiritualitas Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah Assanusiyah mulai tumbuh di tanah Maros, menyebarkan nilai-nilai dzikrullah, keikhlasan, dan kesederhanaan.

Setelah wafatnya KH. Syamsuddin, estafet kepemimpinan tarekat dilanjutkan oleh sepupunya, KH. Muhammad Asnawi. Masa kepemimpinan KH. Asnawi, yang berlangsung dari tahun 1954 hingga 1982, menjadi fase konsolidasi ajaran. Di tangannya, ajaran tarekat semakin tertata dan lebih dikenal di kalangan masyarakat santri Maros dan sekitarnya. Ia dikenal sebagai sosok mursyid yang halus tutur katanya, tegas dalam prinsip, dan istiqamah dalam dzikir.

Tahun 1982 menandai babak baru perjalanan tarekat ini ketika tongkat mursyid beralih kepada KH. Abdul Rasyid Az Zain. Di masa beliau, Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah Assanusiyah semakin dikenal luas, tidak hanya di Maros, tetapi juga di beberapa daerah lain di Sulawesi Selatan. Beliau dikenal sangat dekat dengan para ulama tarekat lainnya, dan selalu mengedepankan persaudaraan sufi lintas tarekat.

Selama tiga dekade kepemimpinannya (1982–2013), KH. Abdul Rasyid Az Zain menekankan pentingnya keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat. Baginya, tarekat bukanlah jalan eksklusif, melainkan jalan penyucian hati yang harus berpijak pada syariat yang kokoh. Pada era KH. Abdul Rasyid mendirikan Pesantren Ulumul Qur’an Miftahul Mu’in yang merupakan amanah dari Al Alimul Allamah Anregurutta KH. Muhammad Nur dan diresmikan pada tahun 1990.Setahun sebelum wafatnya, beliau mengijazahkan seluruh amalan dan sanad tarekat kepada putranya, KH. Mun’im Rasyid, sebagai Mursyid keempat dari buyutnya KH. Syamsuddin.

KH. Mun’im Rasyid, mursyid keempat dalam silsilah tarekat ini, dikenal sebagai ulama yang memadukan keteguhan dalam tradisi dengan pandangan modern dalam pendidikan spiritual. Di bawah bimbingannya, Zawiyah Assanusiyah Tekolabbua menjadi pusat kegiatan dzikir, kajian tasawuf, dan pembinaan ruhani bagi masyarakat sekitar. Ia tidak hanya melanjutkan amalan tarekat, tetapi juga mengembangkan pendekatan edukatif agar ajaran tasawuf dapat diterima oleh generasi muda.

Dalam penjelasannya, KH. Mun’im juga menegaskan bahwa sanad Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah Assanusiyah yang beliau emban merupakan mata rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah Saw. Secara umum, beliau menempati urutan ke-13 dalam silsilah spiritual yang berawal dari Nabi Muhammad Saw. Silsilah ini menegaskan kemurnian dan keabsahan jalur tarekat yang dijaga dengan disiplin dan adab para mursyid dari masa ke masa.

Zawiyah Assanusiyah Tekolabbua kini menjadi salah satu pusat spiritual yang terus menyalakan api dzikir dan pengajaran hakikat di Sulawesi Selatan. Para jamaah yang datang ke tempat ini tidak hanya mencari ketenangan batin, tetapi juga bimbingan moral dan spiritual untuk memperdalam cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Di sinilah semangat Haqiqatul Muhammadiyah terus hidup dan berdenyut dalam kehidupan masyarakat.

Melalui penuturan KH. Mun’im Rasyid , para hadirin seakan diajak menyelami perjalanan panjang sebuah tarekat yang lahir dari rahim sejarah, tumbuh dalam kesunyian, dan kini menjadi bagian penting dari khazanah spiritual Nusantara. Tarekat Haqiqatul Muhammadiyah Assanusiyah Tekolabbua bukan hanya warisan, tetapi juga amanah untuk terus menjaga kemurnian cinta dan pengetahuan tentang Allah.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SUL SEL JATMAN ONLINE Merupakan Media Informasi yang dikelola oleh Tim LTN Idarah Wustho Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah Sul-Sel. Tujuannya adalah: Mengupayakan berlakunya syari'at Islam ala Ahlussunah wal Jama'ah secara konsisten dalam bidang syari'at, thoriqoh, hakikat dan ma'rifat di tengah masyarakat dalam wadah NKRI.

Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031